Sektor Pertanian Rentan Hadapi Musim Kering, Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Solusi

Nasional382 Views

Jakarta – Dinamika perubahan iklim global kembali menguji ketahanan nasional. Ancaman kemarau panjang yang di ambang mata diproyeksikan bakal memberikan hantaman telak terhadap stabilitas sektor pertanian serta pilar ketahanan pangan secara menyeluruh, mengingat penurunan drastis curah hujan menjadikan sektor ini sebagai yang paling rawan terdampak.

Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan Barisan Insan Muda, Permana Irmansyah, memandang bahwa berbagai inisiatif penanggulangan yang telah digulirkan pemerintah—seperti penyaluran benih varietas tahan kekeringan, program penyuluhan intensif bagi petani, hingga penyediaan fasilitas irigasi darurat di titik-titik rawan—perlu diakselerasikan dengan penguatan edukasi publik terkait konservasi air dan penerapan teknik budidaya pertanian yang berkelanjutan demi menjaga produktivitas lahan tetap stabil.

Lebih lanjut, ia juga mendesak pemerintah daerah agar segera merampungkan dan mempercepat penyusunan rencana kontinjensi. Langkah ini dinilai esensial agar instansi berwenang dapat merespons situasi secara tanggap darurat sekiranya cakupan dampak kemarau meluas di kemudian hari.

“Kita harus menjaga ketahanan pangan melalui kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, petani, hingga komunitas lokal,” kata Permana, Selasa (4/8/2026).

Sebagai bentuk komitmen nyata, Barisan Insan Muda menyatakan kesiapannya untuk mengawal dan menyukseskan berbagai agenda mitigasi yang berfokus pada kelestarian ekosistem serta perlindungan warga. Salah satu fokus utama yang didorong adalah masifnya gerakan reboisasi dan rehabilitasi lahan di kawasan hulu guna menjaga ketersediaan cadangan air tanah.

Di samping itu, Permana juga menggarisbawahi urgensi penguatan koordinasi lintas sektor agar pencegahan maupun penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dapat dieksekusi secara cepat dan tepat sasaran.

“Pencegahan harus menjadi prioritas utama karena dampaknya jauh lebih luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Kendala yang dihadapi di lapangan tidak sekadar persoalan keterbatasan fiskal daerah semata, melainkan menuntut adanya transformasi pola pikir dan perilaku masyarakat dalam memperlakukan lingkungan hidup secara bijak. Melalui serangkaian kegiatan edukatif, kampanye konservasi air, penanaman pohon, hingga pembentukan jejaring relawan siaga lingkungan, Barisan Insan Muda bertekad merajut ketahanan warga secara mandiri mulai dari level akar rumput.

Permana tetap menaruh optimisme tinggi bahwa sinergi harmonis antara regulasi taktis pemerintah dan keterlibatan aktif warga secara kolektif akan mampu meminimalisasi kerugian sosial maupun ekonomi akibat musim kering ekstrem.

“Kita harus bergerak sekarang. Pencegahan selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibandingkan menunggu bencana datang,” tutur Permana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *